Pena Babel

Upaya Penyelundupan 25 Ton Pasir Timah Digagalkan Lanal Babel di Perairan Pangkal Balam

430
×

Upaya Penyelundupan 25 Ton Pasir Timah Digagalkan Lanal Babel di Perairan Pangkal Balam

Sebarkan artikel ini

PANGKALPINANG — Tim gabungan dari Satgassus Dispamsanal Mabesal dan Unit Intel Lanal Bangka Belitung berhasil mengungkap dugaan upaya penyelundupan pasir timah yang akan dibawa ke luar negeri. Pada hari Jum’at tanggal 30 Mei 2025.

Sebuah kapal kayu bernama KM. Indah Jaya GT 34 ditemukan kandas di alur pelayaran Pelabuhan Pangkal Balam, dengan muatan pasir timah diperkirakan seberat 25 ton. Kapal tersebut pertama kali terdeteksi saat tim melakukan patroli dan pengawasan rutin di wilayah perairan Pangkalpinang. Sekitar pukul 14.30 WIB, tim mencurigai keberadaan kapal yang berada dalam posisi tidak wajar, kandas di tengah alur pelayaran.

“Ketika tim mendekat, beberapa anak buah kapal terlihat turun dari kapal menggunakan tali dan langsung melarikan diri ke hutan bakau terdekat. Tidak ada satu pun yang merespons saat disapa,” jelas Komandan Lanal Babel, Kolonel Laut (P) Ipul Saepul, S.E., M.Tr.Opsla.

Melihat gelagat mencurigakan, tim segera melakukan pemeriksaan terhadap kapal tersebut. Hasilnya, ditemukan tumpukan pasir timah dalam jumlah besar, diperkirakan mencapai 25 ton. Namun, saat pemeriksaan dilakukan, kapal dalam kondisi kosong tanpa satu pun awak di dalamnya.

Hingga saat ini, belum dapat dipastikan siapa pemilik sah KM. Indah Jaya maupun asal muatan pasir timah tersebut. Proses identifikasi dan penyelidikan pun masih terus dilakukan oleh pihak berwenang.

Karena kapal berada dalam kondisi kandas dan air laut sedang surut, upaya untuk menariknya ke dermaga belum bisa dilakukan. Meski begitu, kapal dan seluruh isinya tetap berada dalam pengawasan ketat personel Lanal Bangka Belitung.

“Kami terus melakukan penjagaan dan pemeriksaan lanjutan terhadap kapal dan muatannya. Ini bagian dari komitmen kami menjaga kedaulatan wilayah laut dan mencegah praktik penyelundupan sumber daya alam yang merugikan negara,” tambah Kolonel Ipul.

Kejadian ini menjadi bukti bahwa upaya penyelundupan hasil tambang masih marak terjadi, dan pengawasan laut tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga kekayaan alam Indonesia.