Pena Babel

Pungli! Tarif Camping 250 Ribu di Pantai Batu Tunggal Dikeluhkan Pengunjung

564
×

Pungli! Tarif Camping 250 Ribu di Pantai Batu Tunggal Dikeluhkan Pengunjung

Sebarkan artikel ini

BANGKA BELITUNG — Viral di media sosial, keluhan seorang wisatawan mengenai mahalnya tarif camping di Pantai Batu Tunggal menuai pertanyaan publik.

Dalam unggahan akun Facebook bernama Megasari Mega, disebutkan bahwa pengunjung diminta membayar hingga Rp 250.000 hanya untuk mendirikan tenda di area pantai, tanpa fasilitas layak.

Kejadian ini terjadi pada Selasa, malam, 8 Juli 2025, ketika sekelompok wisatawan yang ingin menikmati malam dengan tenda pribadi tiba-tiba dimintai tarif tak wajar oleh oknum pengelola.

“Kami didatangi tengah malam dan diminta bayar Rp. 150 ribu untuk kebersihan, Rp 50 ribu untuk listrik, padahal kami tidak pakai saung atau fasilitas apa pun. Bahkan kamar mandi dikunci,” tulis Megasari dalam postingan yang ramai dibagikan di berbagai grup media sosial warga Bangka.

Tarif Mahal, Fasilitas Tak Memadai

Dalam narasi unggahan tersebut, pengunjung mengaku hanya duduk di pinggir pantai, tidak menggunakan listrik, dan tidak menyewa saung. Namun tetap dikenai biaya hingga Rp 150.000 – Rp 250.000. Bahkan, untuk opsi diskon, mereka hanya diperbolehkan menggunakan area gelap di tepi pantai, tanpa listrik, kamar mandi, atau keamanan.

“Mau hemat bayar Rp 100 ribu, tapi cuma bisa pasang tenda di tempat gelap, kamar mandi dikunci, tidak ada listrik. Masa harus buang air di pasir?” tulis pengunjung lainnya.

Keluhan ini memunculkan pertanyaan publik soal regulasi tarif wisata dan pengawasan pengelolaan tempat wisata di daerah Bangka khususnya di lokasi-lokasi alam terbuka seperti Pantai Batu Tunggal.

Belum Ada Tanggapan Resmi

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pengelola Pantai Batu Tunggal maupun dari Dinas Pariwisata Bangka Sungailiat terkait standar tarif dan keluhan pengunjung tersebut.

Namun, beberapa netizen menilai bahwa biaya yang diminta tidak masuk akal, apalagi tanpa penyediaan fasilitas memadai. Mereka mendesak agar instansi terkait melakukan klarifikasi dan audit terhadap pengelolaan lokasi wisata tersebut.

Pentingnya Transparansi Tarif Wisata

Pakar pariwisata lokal menilai insiden ini menunjukkan perlunya regulasi yang tegas dan transparan terkait tarif wisata alam, terutama yang belum dikelola secara resmi oleh pemerintah.

“Tarif boleh dikenakan, tapi harus disesuaikan dengan fasilitas yang diberikan. Jika tidak ada listrik, kamar mandi terkunci, dan keamanan tak terjamin, maka memungut biaya tinggi justru menurunkan daya tarik wisata,” ujar pemerhati wisata Bangka.

Harapan Wisatawan: Murah, Aman, dan Bersih

Wisatawan berharap, tempat-tempat wisata seperti Pantai Batu Tunggal tetap ramah pengunjung, tidak memberatkan secara biaya, serta dikelola secara terbuka dengan fasilitas dasar yang layak.

“Wisata alam bukan untuk dikomersilkan secara liar. Kami mendukung perkembangan wisata, tapi tolong jangan jadikan wisatawan sebagai objek pungutan tanpa aturan,” tulis salah satu netizen.