TOBOALI, TINTAPENA.ID – Suara dentuman keras mengejutkan warga Perumahan Angsana. Disinyalir, suara ledakan diduga berasal dari tabung gas elpiji 50 kilogram di fasilitas SPPG Angsana kecamatan Toboali Kabupaten Bangka Selatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Peristiwa yang terjadi di tengah pemukiman padat penduduk ini sontak memicu kepanikan. Suara ledakan sangat keras tidak hanya merusak sejumlah bangunan, tetapi juga meninggalkan trauma, khususnya bagi anak-anak di sekitar lokasi kejadian.
Pantauan di lapangan menunjukkan di beberapa titik lokasi SPPG Angsana dan rumah milik warga sekitar mengalami kerusakan kaca pecah dan sejumlah bangunan mengalami keretakan akibat kuatnya tekanan ledakan.
Kepala mitra pelaksana MBG Angsana Toboali, Ali Muzakir menyampaikan penyesalannya atas insiden tersebut. Ia menjelaskan bahwa pihaknya telah memenuhi standar peralatan dapur sesuai ketentuan, namun tidak menutup kemungkinan adanya kesalahan operasional di lapangan.
“Dalam kegiatan operasional, kesalahan kecil dari operator bisa saja terjadi. Informasi awal, insiden ini dipicu karena petugas pencuci ompreng tidak sengaja menyenggol tabung gas,” ungkapnya. Kepada media Tintapena.Id saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp. Jumat (10/4/2026).
Ia menambahkan terkait dampak kerusakan yang dialami warga, Ali memastikan pihaknya bertanggung jawab.
“Kami selaku mitra siap mengganti kerugian yang terjadi. Saat ini penanggung jawab di lapangan sedang melakukan pengecekan,” tambahnya.
Sementara itu, salah seorang warga terdampak bernama Suhardi biasa disapa bang Joy mengaku sangat terpukul dengan kejadian tersebut. Ia mengaku saat ledakan terjadi, dirinya sedang berada di luar rumah, sementara itu, anak-anaknya berada di dalam rumah.
“Saya ditelepon anak, katanya ada ledakan besar. Mereka ketakutan sekali. Pas saya sampai, warga sudah ramai dan ternyata benar SPPG Angsana meledak,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan kondisi rumahnya yang mengalami kerusakan cukup parah.
“Kaca-kaca pecah, bahkan engsel ikut lepas. Anak-anak saya sampai sekarang masih menangis dan trauma, bahkan tidak mau tinggal di rumah ini lagi,” katanya.
Menurutnya, keberadaan fasilitas seperti SPPG di tengah pemukiman padat sangat berisiko. Ia berharap kejadian ini menjadi perhatian serius pihak terkait.
“Ini harus jadi evaluasi. Jangan sampai MBG dengan tabung gas besar seperti ini berada di tengah pemukiman warga. Ini sangat berbahaya bagi keselamatan,” tegas Joy.
Ia mendesak agar pihak terkait, baik di tingkat provinsi maupun pusat, segera mengambil langkah tegas, termasuk menutup operasional SPPG di kawasan Angsana tersebut.
Lanjut Suhardi Joy menyebutkan, sebelumnya ia juga pernah mengeluhkan adanya dugaan kebocoran gas beberapa bulan januari lalu. Namun, kekhawatiran itu kini terbukti setelah terjadi ledakan.
“Kami tidak pernah dilibatkan atau diberitahu sejak awal pembangunan. Padahal dulu sudah pernah ada kebocoran gas dan sudah kami sampaikan ke pihak pengelola. Sekarang malah sampai meledak,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan belum ada laporan resmi terkait korban jiwa. Redaksi@Tim masih berupaya mengonfirmasi pihak-pihak terkait guna keberimbangan informasi.





