TOBOALI — Maraknya penyelundupan pasir timah ilegal dari Belitung pelabuhan Tanjung Ru menuju Pelabuhan Sadai Kabupaten Bangka Selatan menjadi sorotan publik.
Aktivitas tersebut disebut-sebut telah berlangsung lama dan dilakukan secara terang-terangan, hingga menimbulkan pertanyaan serius terkait penegakan hukum di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Fenomena tambang dan pengiriman timah ilegal ini sejalan dengan peringatan Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Kenegaraan HUT ke-80 RI. Ia menegaskan komitmennya untuk memberantas mafia tambang ilegal, termasuk aparat penegak hukum yang terlibat atau melindungi praktik tersebut.
“Tidak ada toleransi, meski dibekingi oknum TNI maupun Polri,” tegas Prabowo Subianto.
Namun, hingga kini publik masih bertanya-tanya: apa langkah konkret PT Timah Tbk sebagai perusahaan negara yang jelas dirugikan akibat aktivitas ilegal ini?
Saat dikonfirmasi, Humas PT Timah Tbk, Anggi Siahaan, memilih bungkam dan tidak memberikan jawaban. Hal serupa juga saat Division Head Area Bangka Selatan PT Timah Tbk, Sigit Prabowo, dimintai tanggapan. Keduanya enggan memberi penjelasan. Saat dikonfirmasi Tim. Sabtu, 16 Agustus 2025.
Ketua PPM Basel Norman Adjis SH menyayangkan di tengah sikap bungkam Perusahaan, muncul desakan agar pemerintah, maupun aparat menindak tegas para mafia tambang tersebut.
“PT Timah Tbk adalah Perusahaan plat merah yang di akui oleh Negara untuk mengelola hasil bumi jenis timah secara Legal namun sangat disayangkan jika Perusahaan plat merah ini kalah dengan para mafia timah ilegal yang secara terang-terangan merampok biji timahnya di IUP PT Timah TBK. Ada apa sebenarnya yang terjadi di internal Perusahaan plat merah ini sehingga Pejabatnya tak berani mengambil langkah hukum terhadap para mafia timah ilegal yang ada di negeri ini,” sesalnya.
Pada zaman almarhum orang tua kami masih kerja di TTB (nama PT Timah pada saat itu) betapa hebatnya perusahaan plat merah ini. Kami selaku anak pensiunan Perusahaan plat merah ini sangat berharap dari seorang Direktur utama PT timah yang berani agar bisa bertindak tegas dalam menegakkan kebenaran demi kemajuan Bangka Belitung kemasa yang akan datang.
“Diam bukan solusi. Mafia timah ilegal harus diberantas, bukan dibiarkan tumbuh subur,” harap Norman Adjis (Man Muray) salah satu tokoh masyarakat Bangka Selatan.





