TINTAPENA.ID – Komitmen menjaga kualitas infrastruktur jalan nasional yang disampaikan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Kepulauan Bangka Belitung dalam kegiatan komunikasi publik bersama awak media, Senin, (22/6/2026). justru kini kembali memunculkan pertanyaan publik terkait kondisi ruas Jalan Jeriji–Bikang yang hanya ditambal sulam.
Sorotan tersebut bukan tanpa alasan. Redaksi Tintapena.id diketahui telah lebih dahulu mengangkat persoalan tersebut melalui pemberitaan pada 6 November 2025 dengan judul “Kerusakan Jalan Jeriji-Bikang Retak Lagi, Teknologi Mortar Busa Bernilai Miliaran Dipertanyakan.” Namun, berbagai keluhan dan temuan di lapangan saat itu dinilai belum mendapatkan perhatian serius dari pihak BPJN Babel.
Kini, setelah kembali viral ditahun 2026 dan menjadi perbincangan masyarakat, BPJN Babel menyatakan telah melakukan sejumlah langkah penanganan terhadap ruas jalan yang mengalami kerusakan. Meski demikian, hasil perbaikan yang terlihat di lapangan dinilai belum menjawab akar persoalan.
Berdasarkan informasi proyek, pembangunan Jalan Jeriji–Bikang menghabiskan anggaran sekitar Rp. 50 miliar dengan penggunaan teknologi mortar busa (foam mortar). Namun belum genap satu tahun sejak pekerjaan selesai, sejumlah retakan kembali muncul di beberapa titik ruas jalan tersebut.
Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rina Tarol, menyoroti kondisi setelah melakukan dokumentasi visual terhadap hasil perbaikan yang dilakukan tersebut.
“Hasil pengamatan dilapangan, perbaikan yang dilakukan terlihat hanya berupa penutupan permukaan retakan menggunakan lapisan aspal baru yang dibentangkan mengikuti jalur kerusakan. Lebar penanganan relatif sempit dan hanya berfokus pada area yang retak,” terangnya. kepada awak media Tintapena.Id. Senin, (23/6/2026).
Ia menilai secara visual, langkah tersebut lebih menyerupai penanganan sementara dibandingkan perbaikan menyeluruh terhadap struktur jalan yang mengalami masalah retakan memanjang dan indikasi deformasi masih tampak pada sejumlah bagian jalan meskipun telah dilakukan penambalan.
“Kondisi ini dugaan sumber utama kerusakan kemungkinan berasal dari penurunan tanah dasar, kegagalan sambungan konstruksi, atau ketidaksesuaian kinerja sistem mortar busa yang digunakan dalam proyek,” jelasnya.
Lanjut Rina dari hasil dokumentasi juga menunjukkan sambungan antara lapisan aspal lama dan baru tampak tidak seragam. Dalam praktik konstruksi jalan, apabila kerusakan bersifat struktural, penanganan ideal seharusnya dilakukan melalui pembongkaran.
“Area rusak hingga lapisan pondasi, seharusnya di evaluasi kondisi tanah dasar, perbaikan pondasi bawah, pemasangan lapisan baru secara bertahap, hingga pengujian mutu material dan kepadatan,” sebutnya.
Lebih lanjut, pola retakan yang muncul tepat di garis tengah jalan diduga berkaitan dengan sambungan dua tahap pekerjaan konstruksi.
“Beberapa kemungkinan penyebab antara lain sambungan pengecoran yang tidak bekerja secara monolit, terjadinya penurunan tanah yang berbeda antar sisi jalan (differential settlement), ketidakseragaman daya dukung tanah, hingga sistem mortar busa dan cerucuk yang tidak berfungsi sesuai desain awal,” kata Rina.
Berdasarkan evaluasi teknis sementara dari hasil visual lapangan, perbaikan yang dilakukan saat ini dinilai masih sebatas tambal sulam atau overlay lokal. Penanganan tersebut belum dapat dikategorikan sebagai rekonstruksi permanen terhadap sumber kerusakan utama.
“Keretakan akan kembali muncul setelah dilakukan penambalan, efektivitas metode perbaikan yang diterapkan kini menjadi perhatian dan layak dievaluasi secara menyeluruh, sudah seharusnya pihak APH turun, jalan ini menggunakan teknologi tinggi anggaran fantastis, ada biaya konsultan perencanaan, konsultan pengawas dengan anggaran milyaran rupiah, ada pengawas, PPK dan PPTK.. kondisi sudah rusak dan berbahaya bagi pengendara,” tegasnya.
Masyarakat pun berharap adanya audit teknis yang transparan agar kualitas pembangunan infrastruktur yang menggunakan anggaran mencapai puluhan miliar tersebut benar-benar memberikan manfaat jangka panjang bagi pengguna jalan.





