1. Latar Belakang dan Pembentukan Karakter Kepemimpinan
Dalam video tersebut dijelaskan bahwa Hitler mengalami masa-masa sulit di awal kehidupan Adolf Hitler itu sendiri. Hitler lahir dengan nama lengkap yaitu Adolfus Hitler pada tanggal 29 April 1889 di sebuah kota kecil bernama Braunau am Inn di Austria yang lokasinya dekat dengan perbatasan Jerman.
Dia tumbuh dalam keluarga yang sederhana tinggal di sebuah apartemen kecil di Braunau dan merupakan anak keempat dari enam bersaudara namun ketika kakaknya meninggal saat Hitler masih bayi, Ayah Hitler adalah seorang pria bernama Alois Hitler dia dikenal sebagai anak tidak sah yang lahir di luar perkawinan dari seorang petani berusia 42 tahun yang bernama Maria Ana sel Graber.
Dalam catatan resmi berupa akte Baptis yang ada tidak diketahui siapa ayah biologis alias kakek Hitler ini karena Maria memang belum pernah menikah ketika melahirkan Alois, Maria membesarkan Alois seorang diri sambil bekerja sebagai pengurus rumah tangga untuk keluarga kaya raya Yahudi di Austria. Nama belakang Hitler sendiri muncul ketika Maria akhirnya menikah dengan pria bernama Johan Georg Hidler. Beberapa tahun setelah kelahiran Alois, nama belakang pria inilah yang kemudian dipakai Maria dan Alois untuk nama belakang mereka Namun karena kesalahan pendeta dalam menulis akte nikah Maria dan Johan akhirnya nama hidler berganti menjadi Hitler.
Saat alois berumur 10 tahun Maria meninggal dunia dan karena kematiannya ini membuat Alois harus bekerja keras di pertanian keluarga Ayah tirinya untuk mendapatkan penghasilan serta makanan. Ketika remaja Alois akhirnya magang di sebuah toko pembuat sepatu dan dia dibimbing untuk mempelajari seni pembuatan kulit sepatu, Alois terbilang sebagai anak yang gigih tekun dan ambisius dia tahu cara memanfaatkan peluang yang membuatnya dalam waktu cepat mendapatkan kehidupan yang lebih layak.
Sebagai kelas menengah karena dia akhirnya mendapatkan pekerjaan di kementerian keuangan Austria, Alois kemudian sempat menikah dua kali yang berakhir dengan perceraian hingga akhirnya ia menikah dengan Clara yaitu ibu dari Adolf Hitler ketika Hitler berusia 3 tahun.
Hitler kecil saat itu sudah menunjukkan sifatnya sebagai pemberontak dan pemalas yang suka membuat masalah. Dia dimasukkan ke sekolah volks schol sebuah sekolah dasar yang didanai negara dan selama masa-masa sekolahnya Ini, Nilai Hitler tidak pernah bisa dikatakan baik tidak hanya itu saja kerepotan yang harus dihadapi orang tuanya juga.
Sebagai seorang siswa Hitler tercatat sebagai siswa yang perilakunya selalu saja menimbulkan konflik, Alois sering dibuat habis kesabarannya karena Hitler selalu menolak untuk mematuhi disiplin ketat yang diterapkan pihak sekolah. Hitler jadi sering di bully oleh ayahnya sendiri karena perilaku buruk tersebut tapi Ibu Hitler yang penyayang dan penuh kasih selalu melindungi Hitler dari hukuman ayahnya.
Keluarga Hitler diketahui kemudian berpindah lagi ke lambakch di tahun 1897 setelah usaha pertanian Alois gagal. Pada saat itu usia Hitler sudah 8 tahun sikapnya menjadi agak lebih baik Bahkan dia mulai mau bernyanyi di paduan suara gereja yang membuat ibunya memuji Hitler, tidak henti-henti ibunya juga kemudian membiayai Hitler untuk ikut les private bernyanyi di usia yang sama Hitler memberitahu orang tuanya bahwa dia ingin menjadi pendeta Katolik sebuah keinginan yang terdengar normal dan menimbulkan harapan bahwa Hitler akan tumbuh menjadi seorang pria yang baik.
Namun di tahun 1900 ketika Hitler masih berusia 11 tahun adik laki-laki Hitler yang bernama Edman meninggal dunia karena penyakit campak, Hitler yang sangat dekat dengan adiknya menjadi sangat Terpukul dia jatuh dalam depresi berkepanjangan. Dan hal ini juga sebenarnya dipengaruhi oleh lokasi pemakaman Edman yang terletak di seberang rumah sehingga membuat Hitler sulit untuk melepaskan kepergian adiknya selama bulan-bulan.
Awal kematian Edman, Dia seringkiali terlihat menghabiskan waktunya di kuburan Edman berbaring disamping makam adiknya itu bahkan terkadang sampai larut malam tidak ada kegiatan yang dia lakukan selain berbicara pada nisan adiknya.
Kematian edman juga ternyata berdampak kepada perilaku Hitler, yang sebelumnya dia yang awalnya dikenal sebagai anak yang percaya diri, mudah bergaul dan sangat detail pada setiap hal yang dikerjakannya lalu berubah menjadi anak yang pemurung, penyendiri, ceroboh dan perilakunya memburuk hingga terus menimbulkan konflik dengan ayahnya bahkan guru-gurunya di sekolah.
Alois yang melihat putranya butuh hidup yang lebih terstruktur dan disiplin akhirnya mengirim Hitler ke rdul De lins pada bulan September 1900. Hal ini sangat bertentangan dengan kemauan Hitler yang sebenarnya lebih ingin masuk ke sekolah menengah kelas karena dia ingin menjadi seorang seniman.
Hitler memilih Jalan memberontak dari kehendak ayahnya dengan sengaja bermalas-malasan dan mendapat prestasi buruk disekolahnya karena dia berharap “jika sang ayah melihat prestasinya buruk di bidang teknik maka Hitler akan diizinkan mengejar impiannya sebagai seniman”. Selama berada di rasdul fokus Hitler lebih condong untuk mempelajari Gagasan dan ideologi nasionalis Jerman.
Meskipun perjalanan Hitler kemudian berujung pada kepemimpinan yang hancur, dari sudut pandang teori Chaniago, pengalaman hidupnya menunjukkan bagaimana kesulitan dapat mengasah kemampuan adaptasi, strategi, dan semangat seseorang. Faktor eksternal seperti situasi sosial, ekonomi, dan politik Jerman pasca Perang Dunia I menjadi “katalisator” yang memperkuat ambisinya untuk tampil sebagai penyelamat bangsa.
Aspizain Chaniago menjelaskan bahwa kepemimpinan memiliki berbagai tipe, antara lain kepemimpinan otoriter, demokratis, dan laissez-faire. Dalam gaya kepemimpinan Hitler termasuk dalam tipe otoriter. Ia menuntut ketaatan mutlak, mengendalikan semua aspek kehidupan sosial-politik, dan tidak memberikan ruang bagi oposisi.
Chaniago menilai bahwa tipe kepemimpinan otoriter umumnya efektif dalam situasi krisis karena menekankan ketegasan dan kecepatan pengambilan keputusan, namun berpotensi besar menimbulkan penindasan dan kehilangan nilai-nilai kemanusiaan jika tidak diimbangi dengan moralitas.
Dalam kerangka Chaniago, kharisma adalah salah satu aspek penting yang dapat memengaruhi keberhasilan seorang pemimpin. Namun, kharisma tanpa nilai moral hanya akan menghasilkan kekuasaan yang manipulatif. Hitler memanfaatkan retorika dan propaganda untuk menumbuhkan fanatisme buta, sesuatu yang oleh Chaniago disebut sebagai distorsi nilai kepemimpinan, yaitu ketika kemampuan memimpin digunakan bukan untuk membangun, tetapi untuk menghancurkan para zionist yahudi.
Secara keseluruhan teori Aspizain Chaniago dalam Pemimpin dan Kepemimpinan, kisah Hitler menggambarkan proses pembentukan kepemimpinan yang kuat namun kehilangan arah moral. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan sejati bukan hanya soal kemampuan memimpin, tetapi juga komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan, etika, dan tanggung jawab sosial. Seorang pemimpin tanpa moral hanyalah penguasa, bukan pembimbing bagi bangsanya.
Nama: Shihab Rafi Abdullah
Mata Kuliah: Bahasa Indonesia
Kelas: IPOL A
NIM: 5122511061





