BANJAR – Tidak banyak yang mengetahui bahwa salah satu pusaka bersejarah peninggalan Pangeran Antasari, tokoh nasional dari Kalimantan Selatan, masih terjaga hingga saat ini. Pusaka tersebut adalah Keris Ajar, yang kini berada dalam simpanan Sultan Khairul Saleh, pewaris Kesultanan Banjar.
Keris Ajar menjadi salah satu koleksi paling berharga dari ratusan keris yang dimiliki Sultan Khairul Saleh. Pusaka ini jarang diperlihatkan ke khalayak umum. Hanya pada kesempatan tertentu, seperti saat menerima kunjungan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB), keris tersebut diperlihatkan untuk keperluan penelitian dan pelestarian sejarah.
Menurut catatan, Pangeran Antasari sendiri yang memberi nama Ajar pada keris tersebut. Kata Ajar memiliki makna ganda: dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan maupun keberanian. Namun, terdapat rahasia menarik di balik penamaannya. Jika kata ajar dibaca terbalik, ia menjadi raja, menandakan bahwa pusaka ini hanya pantas dimiliki oleh para penguasa.
Keris Ajar bukan sekadar benda pusaka. Nilai historisnya sangat tinggi, karena menjadi saksi perjuangan Pangeran Antasari yang dikenal dengan semboyan perjuangan rakyat Banjar: “Haram Manyarah, Waja Sampai Kaputing” (pantang menyerah hingga akhir).
Selain sebagai peninggalan sejarah, keris ini juga menjadi simbol jati diri dan keberanian masyarakat Banjar. Usianya yang sudah ratusan tahun menambah nilai sakral sekaligus mempertegas posisinya sebagai warisan budaya bangsa yang patut dijaga.
Hingga kini, Keris Ajar tetap tersimpan dengan baik di lingkungan Kesultanan Banjar dan menjadi salah satu pusaka yang paling disakralkan oleh Sultan Khairul Saleh.





