Nasional

Dunia Internasional Soroti Kerusakan Hutan Sumatra, Banjir Bandang: Akibat Ekspansi Perusahaan

244
×

Dunia Internasional Soroti Kerusakan Hutan Sumatra, Banjir Bandang: Akibat Ekspansi Perusahaan

Sebarkan artikel ini

TINTAPENA.ID — Banjir bandang yang melanda beberapa wilayah di Pulau Sumatra tidak hanya mengguncang masyarakat lokal, tetapi juga mengundang perhatian dan kecaman dari komunitas internasional. Banyak negara dan organisasi lingkungan global menyatakan keprihatinan mendalam atas kondisi hutan alami Sumatra yang terus mengalami kerusakan parah.

Hutan yang selama ini menjadi rumah bagi satwa liar yang dilindungi mulai dari harimau Sumatra hingga gajah kini menghadapi ancaman serius. Laporan berbagai lembaga menunjukkan bahwa sebagian besar kerusakan disebabkan oleh penebangan ilegal dan ekspansi perusahaan yang dinilai mengabaikan prinsip keberlanjutan.

Banyak pihak mempertanyakan apakah kerusakan masif ini terjadi karena kelalaian, atau justru akibat pembiaran yang disengaja. Praktik ilegal logging yang berlangsung bertahun-tahun tanpa penindakan tegas dinilai sebagai penyebab utama terganggunya ekosistem dan munculnya risiko bencana hidrometeorologi, seperti banjir bandang yang terjadi pekan ini.

Sebagian aktivis dan pengamat lingkungan menyerukan agar para pelaku perusahaan yang terlibat diberikan hukuman setimpal. Mereka juga berharap Presiden Prabowo Subianto turun langsung meninjau persoalan ini dan memastikan penegakan aturan di lapangan tidak lagi tebang pilih.

“Rakyat tidak boleh lagi diam. Ketika aturan dilanggar dan hutan dirusak, yang menanggung akibatnya justru masyarakat di hilir. Bencana ini adalah bukti bahwa kejahatan ekologis memiliki dampak langsung terhadap keselamatan publik,” ujar salah satu aktivis lingkungan dalam pernyataan dimedia sosial. Minggu, 30 November 2025.

Di tingkat nasional, sorotan kembali tertuju pada Menteri Kehutanan RI, H. Zulkifli Hasan. Banyak kalangan menilai lemahnya pengawasan terhadap perambahan hutan membuat kerusakan semakin meluas. Pertanyaan publik pun bermunculan: apakah bencana ini murni karena curah hujan ekstrem, atau karena hilangnya tutupan hutan yang mestinya menjadi penahan alamiah?

Selain rumah warga dan fasilitas umum yang rusak, masyarakat menilai kerugian terbesar adalah hilangnya masa depan yang seharusnya dilindungi oleh negara. Ekosistem yang runtuh, satwa yang kehilangan habitat, serta ancaman bencana berulang menjadi pengingat bahwa kelestarian alam tidak bisa ditawar.

Gelombang kecaman dari dunia internasional ini menjadi sinyal kuat bahwa isu kerusakan hutan di Sumatra bukan lagi persoalan domestik belaka, melainkan masalah global yang harus segera ditangani secara tegas dan transparan.