TOBOALI – Mirisnya selama bertahun- tahun, hasil laut di wilayah Kabupaten Bangka Selatan (Basel) justru banyak dikirim ke luar daerah, khususnya ke Pangkalpinang tanpa melalui sistem pelelangan resmi. Kondisi ini menuai sorotan publik.
Padahal, belasan tahun berlalu, nelayan di Bangka Selatan masih harus menjual hasil tangkapan ke luar daerah. Akibatnya, potensi ekonomi dari sektor perikanan yang seharusnya menjadi sumber pendapatan daerah justru mengalir keluar.
Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Bangka Selatan Risvandika menyampaikan bahwa pihaknya tengah mengikuti rapat KP3 Provinsi bersama Forkopimda, sehingga belum dapat memberikan keterangan lebih lanjut.
“Bisa langsung komunikasi dengan pak Kabid Perikanan, kami sedang rapat KP3 provinsi dengan Forkopimda,” ujarnya singkat.
Sementara itu, tim pena kembali mengonfirmasi ke kadin Risvandika terkait pengelolaan dan pendistribusian hasil laut dari nelayan Basel. Hal tersebut sangat mengejutkan.
“Kita Basel belum ada TPI, tempat pelelangan ikan,” jelas Risvandika saat dihubungi media Tintapena.Id
Pada Rabu, (22/10/2025).
Kabid Dinas Pertanian dan Perikanan Basel Jack enggan memberikan komentar. Ia memilih bungkam seribu bahasa terkait pertanyaan mengenai berapa jumlah perusahaan yang setiap hari mengangkut ikan dari Basel menuju Pangkalpinang.
Sejumlah warga pesisir pun berharap pemerintah daerah segera turun tangan, agar hasil laut dapat dikelola secara mandiri dan memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan nelayan lokal.
“Selama ini kami hanya bisa menjual ke pengepul yang datang dari luar. Kalau di sini, tentu harga bisa lebih adil dan nelayan tidak dirugikan,” ujar salah satu nelayan Toboali.
Hingga kini, publik menantikan langkah konkret dari pemerintah daerah maupun Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Bangka Selatan untuk menjawab persoalan klasik yang telah berlangsung selama bertahun-tahun ini agar hasil laut Basel benar-benar bisa menjadi kekuatan ekonomi daerah, bukan hanya komoditas keluar wilayah.





