Nasional

Siti Manggopoh: Srikandi Minangkabau yang Mengguncang Markas Belanda

267
×

Siti Manggopoh: Srikandi Minangkabau yang Mengguncang Markas Belanda

Sebarkan artikel ini

SUMATERA BARAT – Dalam catatan perjuangan bangsa Indonesia, perlawanan terhadap penjajahan tidak hanya dimonopoli oleh kaum lelaki. Di balik cerita-cerita heroik para pejuang, muncul pula nama-nama perempuan tangguh yang berani mengangkat senjata. Salah satunya adalah Siti Manggopoh, sosok perempuan Minang yang membuktikan bahwa keberanian tidak mengenal jenis kelamin maupun latar belakang.

Lahir pada 15 Juni 1881 di sebuah desa terpencil bernama Manggopoh, Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Siti berasal dari keluarga petani sederhana. Ia tidak pernah mengecap pendidikan formal. Segala ilmu dan nilai hidup ia pelajari dari surau dan gelanggang, tempat ia juga belajar mengaji dan beladiri, yang secara tidak langsung membentuk semangat juangnya sejak kecil.

Sebagai anak bungsu dan satu-satunya anak perempuan di keluarganya, kehadiran Siti disambut hangat. Di usia 15 tahun, ia menikah dengan Rasyid atau yang dikenal dengan nama Bagindo Magek, dan dikaruniai seorang putri. Namun perannya tidak terhenti sebagai ibu rumah tangga. Ketika tanah Minangkabau ditindas oleh kebijakan pajak (belasting) kolonial Belanda pada tahun 1908, amarahnya pun bangkit.

Melawan Lewat Sumpah dan Senjata

Pengenaan pajak oleh pemerintah kolonial dianggap sangat menyakiti hati masyarakat Minang, terutama karena mencakup harta pusaka kaum yang diwariskan secara turun-temurun. Pajak ini tidak hanya menyasar penghasilan pribadi, namun juga menyentuh jantung adat istiadat masyarakat.

Situasi ini memicu lahirnya gerakan perlawanan. Siti bersama 13 tokoh lainnya, termasuk suaminya, membentuk kelompok perlawanan. Di sebuah surau pada malam hari tanpa penerangan, mereka bersumpah: berjuang sampai titik darah penghabisan, bahkan jika harus mengorbankan nyawa.

Tanggal 15 Juni 1908 menjadi momentum bersejarah. Siti dan kelompoknya menyusun strategi menyerang markas Belanda. Ia sendiri menyusup ke dalam markas musuh yang tengah berpesta. Dalam gelap, ia memadamkan lampu dan memberi isyarat kepada rekan-rekannya. Penyerangan meledak, dan sebanyak 53 tentara Belanda tewas.

Namun dua di antaranya berhasil melarikan diri ke Lubuk Basung dan melaporkan kejadian itu. Belanda murka. Pasukan dikerahkan dari Bukit tinggi dan Padang Pariaman, membabi buta menghancurkan desa Manggopoh dan menangkap siapa saja yang terlibat. Siti dan suaminya ditangkap suaminya dibuang ke Manado, Siti ke Padang Pariaman lalu Padang.

Ibu yang Tak Menanggalkan Perjuangan

Di tengah deru peluru dan bayang-bayang penjara, Siti tetap mengemban peran sebagai seorang ibu. Ia membawa serta anak perempuannya dalam pelarian selama 17 hari, dan selama 30 bulan mendekam di penjara, ia tetap merawat sang anak dengan penuh kasih sayang.

Keberanian Siti bukan hanya dalam medan perang, namun juga dalam menghadapi dilema sebagai seorang ibu dan pejuang. Pilihan berat itu tidak membuatnya goyah. Ia menunjukkan bahwa cinta seorang ibu dan cinta pada tanah air bisa menyatu dalam satu tubuh yang kokoh.

Siti Manggopoh wafat pada 20 Agustus 1965 di Gasan Gadang, Padang Pariaman, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara, Padang. Namanya memang tidak setenar Pahlawan Nasional lainnya, namun semangat perjuangannya tetap hidup di antara generasi muda Minangkabau dan bangsa Indonesia.

Catatan: Semangat Siti Manggopoh menjadi simbol bahwa perempuan Indonesia sejak dahulu memiliki peran penting dalam perjuangan bangsa—tidak hanya sebagai pendamping, tapi juga pelopor perlawanan.