Bangka Selatan

Kunjungi Rumah Korban ZH, Rina Tarol: Jangan Ada Lagi Anak-Anak Jadi Korban

1273
×

Kunjungi Rumah Korban ZH, Rina Tarol: Jangan Ada Lagi Anak-Anak Jadi Korban

Sebarkan artikel ini

TOBOALI – Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rina Tarol menunjukkan empati mendalam dengan mengunjungi langsung kediaman orang tua ZH, korban kekerasan anak yang menggemparkan masyarakat Kabupaten Bangka Selatan.

Rina menyampaikan keprihatinannya atas peristiwa yang terus menimpa anak-anak di Bangka Selatan, mulai dari kekerasan fisik oleh orang tua, kasus pelecehan, hingga tragedi bullying yang diduga kuat menyebabkan kematian ZH.

“Ini sangat menyedihkan. Kita selalu bangga menyebut Bangka Selatan sebagai kabupaten ramah anak, tapi kenyataannya masih banyak kejadian yang justru melukai anak-anak. Ini tamparan keras bagi semua pihak,” ungkap Rina Tarol Kepada Tim Pena. Sabtu, 2 Agustus 2025,

Ia menegaskan pentingnya semua pihak untuk menahan diri memberikan spekulasi hingga hasil resmi otopsi dan visum dikeluarkan. Kepada pihak penyidik, Rina meminta agar proses hukum dilakukan secara profesional dan transparan demi menghormati keluarga korban dan menjaga kepercayaan publik.

“Kita minta penyidik bekerja secara terbuka, profesional, jangan ada yang ditutup-tutupi. Karena saat ini sudah terlalu banyak spekulasi di masyarakat yang malah memperkeruh suasana,” tegasnya.

Rina juga menyoroti pentingnya perlakuan khusus bagi pelaku, mengingat masih di bawah umur. Ia berharap kejadian ini menjadi yang terakhir dan menjadi pembelajaran kolektif agar tak ada lagi anak-anak yang menjadi korban kekerasan.

Ia mendesak Pemkab Bangka Selatan untuk mengambil tindakan cepat terhadap pihak sekolah.

“Kami mendesak agar guru-guru yang terlibat dinonaktifkan sementara hingga proses penyelidikan selesai. Jangan sampai mereka tetap mengajar di tengah polemik ini. Kita perlu kejelasan dan keadilan untuk semua,” tambahnya.

Menanggapi pengawasan di sekolah, Rina mengusulkan pemasangan CCTV sebagai langkah preventif.

“CCTV penting jika memang bisa mencegah kasus serupa. Guru harus paham bahwa di sekolah, mereka adalah penjaga anak-anak. Pengawasan harus ketat,” ujarnya.

Di akhir kunjungan, Rina Tarol berharap kasus ZH menjadi momentum refleksi bersama untuk memperbaiki sistem perlindungan anak di daerah, terutama di lingkungan pendidikan.

“Semoga ini menjadi yang terakhir. Jangan ada lagi air mata anak-anak yang jatuh karena kelalaian kita semua,” tutupnya.