TOBOALI – Lonjakan harga timah dunia yang kini menembus kisaran 43.000 USD per metrik ton. Diduga belum dirasakan para penambang rakyat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pasalnya, harga beli di tingkat lokal dinilai belum sebanding dengan kenaikan yang terjadi di pasar internasional.
Berdasarkan data perdagangan kontrak timah tiga bulan pada Senin, 9 Februari 2026, harga tercatat mencapai 48.625 USD per ton. Angka ini menunjukkan kenaikan sekitar 15,77 persen sejak awal tahun dan melonjak hingga 45,14 persen atau setara 15.410 USD per ton dibandingkan periode sebelumnya.
Ketua PPM Bangka Selatan, Norman Adjis yang akrab disapa Man Muray, menilai PT Timah Tbk perlu melakukan penyesuaian harga beli dari masyarakat penambang. Ia menekankan pentingnya transparansi dan keadilan dalam tata niaga timah, terutama saat harga global sedang tinggi.
“PT Timah harus terbuka soal skema dan patokan harga beli. Ketika harga dunia naik tajam, sudah semestinya penambang rakyat juga merasakan dampaknya. Jangan sampai kenaikan hanya terasa di atas kertas, tetapi tidak sampai ke masyarakat,” ujar Norman kepada media Tintapena.Id. Rabu, (11/2/2026).
Menurutnya, lonjakan harga timah dunia seharusnya menjadi angin segar, tidak hanya bagi perusahaan dan penerimaan negara, tetapi juga bagi pelaku tambang skala kecil yang selama ini menjadi bagian penting dari rantai pasok.
Norman juga menyoroti potensi peningkatan kinerja keuangan perusahaan, termasuk dampaknya terhadap saham PT Timah (TINS), seiring dengan meroketnya harga komoditas tersebut. Namun ia mempertanyakan komitmen perusahaan jika kondisi berbalik arah.
“Kalau nanti harga dunia turun, apakah perusahaan akan tetap konsisten? Saat ini saja penambang rakyat merasa harga yang diterima belum mencerminkan kondisi pasar global yang sedang tinggi,” tegasnya.
Ia menambahkan, momentum kenaikan harga global semestinya dimanfaatkan untuk memperbaiki sistem pembelian dan memastikan adanya distribusi manfaat yang lebih adil. Transparansi mekanisme penetapan harga, menurutnya, menjadi kunci agar tidak muncul kecurigaan di tengah masyarakat.
Ketua PPM Basel berharap ada langkah konkret dari pihak BUMN terkait, agar kesejahteraan penambang rakyat benar-benar meningkat seiring melonjaknya harga timah dunia.
“Kami ingin ada kebijakan yang berpihak pada penambang kecil. Jangan sampai mereka hanya menjadi penonton saat harga dunia sedang meroket,” tutup Norman.





