Bangka Selatan

Kematian ZH: Sebanyak Apapun Kebohongan, Tak Akan Mampu Menutupi Kebenaran

2939
×

Kematian ZH: Sebanyak Apapun Kebohongan, Tak Akan Mampu Menutupi Kebenaran

Sebarkan artikel ini

TOBOALI, TINTAPENA.ID — Duka masih menyelimuti keluarga seorang siswa kelas 5 SD berinisial ZH (10) yang meninggal dunia setelah menjadi korban kekerasan atau bullying di lingkungan sekolahnya, salah satu SD Negeri di Kecamatan Toboali.

Korban menghembuskan napas terakhir pada Minggu pagi, 27 Juli 2025, setelah sebelumnya sempat menjalani perawatan intensif di RSUD Bangka Selatan. Luka memar di kepala dan perut membuat bocah tak berdosa ini mengalami muntah dan kehilangan kesadaran.

Namun, alih-alih menyuarakan kebenaran dan memberikan keadilan, sejumlah pihak justru terkesan menutupi fakta sebenarnya. Beragam pernyataan tidak sinkron dan narasi yang menggiring opini publik mencuat ke permukaan. Semua seolah diatur sedemikian rupa untuk melindungi pelaku dan menjaga nama baik institusi.

“Kami hanya ingin keadilan. Jangan sampai ada lagi anak-anak lain yang mengalami nasib seperti ZH. Guru seharusnya melindungi, bukan menutup mata ketika anak butuh pertolongan,” tegas orang tua korban.

Sayangnya, hingga korban mengembuskan napas terakhir, tak satu pun guru maupun pihak sekolah datang menjenguk, seolah menutup mata terhadap tragedi yang terjadi di lingkungan mereka sendiri.

“Bohong tetaplah bohong kecil atau besar. Semakin banyak berbohong, semakin besar petaka yang ditimbulkan,” ujar seorang warga yang mengikuti perkembangan kasus ini. Selasa, 29 Juli 2025.

Kebohongan mungkin bisa menyilaukan sesaat, tetapi tak akan bisa menahan cahaya kebenaran selamanya. Orang jujur akan terus bertahan meski sendirian. Tapi pembohong, cepat atau lambat, akan terjebak dalam pusaran dustanya sendiri.

Keluarga kini menggantungkan harapan pada Polres Bangka Selatan untuk mengungkap kejadian ini seterang-terangnya. Jangan sampai tragedi ini menjadi lembaran kelam yang tak pernah terjawab.

Kematian ZH bukan sekadar kasus, melainkan tamparan keras bagi dunia pendidikan, hukum, dan nurani kita semua. Jika kebenaran terus dikubur dengan kebohongan, maka siapa lagi yang akan menjaga masa depan anak-anak ?